Rabu, 21 Januari 2009

Indahnya kebersamaan

INDAHNYA KEBERSAMAAN

Ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di kelas XI IPS 3, aku merasa sangat asing. Hal ini terjadi karena teman perempuan satu kelasku dulu tidak ada di kelas XI IPS 3. Namun, ada dua teman kostku dulu yang ternyata satu kelas denganku. Aku sangat bersyukur karena aku merasa tidak sendirian lagi, ada teman yang aku kenal. Akhirnya aku duduk satu meja dengan teman satu kamar kostku dulu. Dia adalah Vivi. Aku dan Vivi memang sudah cukup mengenal satu sama lain karena aku sudah pernah tinggal satu atap dengannya selama kurang lebih 7 bulan saat aku kost satu rumah dengannya. Sampai akhirnya aku berhenti kost karena pamanku memutuskan pergi merantau di luar kota. Kini aku hanya tinggal berdua dengan nenekku. Saat aku masih kost, Vivi selalu bercerita kepadaku sampai aku tertidur.
Aku sangat senang duduk satu meja dengan Vivi karena dia selalu membantu kesulitan belajarku terutama dalam pelajaran Bahasa Inggris. Menurutku dia jagonya Bahasa Inggris. Dia juga tidak jarang menenangkan aku saat aku tengah naik darah. Bagiku dia adalah teman yang unik. Dia suka sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sederhana, tidak suka menulis panjang lebar, catatannya pun selalu ringkas, suka tertawa terus marah-marah sendiri, dan hal-hal aneh lainnya. Namun keunikannya itu, kadang membuatku kesal, pasalnya dia kebiasaan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula. Selain itu, dia juga tidak jarang membuang benda-benda yang ada di depannya ketika dia tengah marah.
Hari berganti hari, aku pun mulai mengenal teman-temanku yang lain. Aku berusaha menyesuaikan diri, ikut bergabung dan bercanda tawa dengan mereka. Tetapi ada satu hal yang membuatku minder, suaraku yang kecil terkadang membuatku tidak percaya diri saat berbicara di depan teman-temanku. Namun Vivi, Rohmah, dan Ayu selalu memberiku semangat agar aku dapat percaya diri dan yakin bahwa aku bisa. Aku sangat senang berteman baik dengan mereka. Hubungan pertemananku dengan teman-temanku yang lain pun bisa dikatakan cukup akrab. Walaupun terkadang aku merasa kesal dengan teman-temanku yang seringnya duduk di barisan timur. Mereka terkadang menjajah daerah tempat dudukku hanya kalau ada ulangan saja. Sistem duduk di kelasku memang tidak ditetapkan, sehingga mereka bebas menduduki tempat duduk yang mana saja apabila berangkat lebih awal. Yah itulah resiko, yang aku alami apabila saat ada ulangan aku berangkat siang.
Selama satu tahun kurang ini, aku merasa sangat berkesan saat menghadapi tugas drama. Aku begitu terkesan dalam kebersamaan yang aku lalui ketika mendapat tugas ini baik dalam latihan, persiapan maupun pementasannya. Memang kelompokku merupakan kelompok yang paling singkat dan paling membuat kotor ruangan saat pementasan dibandingkan dengan kelompok drama yang lain. Tapi aku sangat menikmati suasana itu.
Dimulai saat pembentukan kelompok drama. Seperti biasa atau sewajarnya, setiap pembentukan kelompok biasanya sesuai dengan daerah tempat duduknya. Begitulah yang terjadi dalam kelompokku. Kemudian aku, Vivi, Rohmah, Ayu, Anggun, dan Yuni masuk dalam satu kelompok. Kami pun bermusyawarah menentukan tema untuk drama kami. Penentuan tema ini sangat bergantung pada temanku,Vivi.Dia memberikan berbagai pilihan tema, tapi saat itu dia juga sudah menulis cerita drama. Sehingga, keputusan musyawarah mengambil tema drama tersebut. Waktu itu ada tambahan informasi bahwa drama minimal 45 menit, hal itu membuat kami berencana untuk membuat setting tempat secara bergantian agar drama bisa berlangsung lama. Setelah naskah jadi, kami mulai latihan. Setiap satu minggu latihan dua kali yaitu hari Selasa dan Jum’at. Hal ini berjalan lancer kami selalu melaksanakan itu. Apabila ada salah satu dari kami tidak bisa latihan kami kompak tidak latihan. Mendekati hari pementasan kami mulai menyiapkan segala sesuatunya yaitu memikirkan setting tempat, membagi pembacaan prolog dan membagi peralatan yang harus dibawa. Setelah semuanya selesai kami mulai belajar tanpa teks.
Waktu terus berputar mendekati hari pementasan. Hari Sabtu tanggal 19 April 2008 yaitu satu hari sebelum hari pementasan kami pergi ke sawah beersama untuk merumput. Sedangkan daun kering masing-masing orang membawanya, setelah mencari rumput, kamipun pulang. Sesampainya di rumah aku tidak enak-enakan merasa tugas telah selesai tetapi aku pergi ke sawah menemui nenek untuk merumput lagi. Untungnya sawah nenek banyak ditumbuhi rumput sehingga aku bisa membawa tiga belas ikat rumput. Namun tidak semuanya rumput itu aku bawa karena aku juga harus membawa daun kering, rumput sebagai alas, dan ranting-ranting kecil.
Hari Minggu tanggal 20 April 2008 adalah hari pementasan. Setelah serentetan perjuangan dilakukan mulai dari latihan, mengumpulkan daun kering dari pekarangan rumah, merumput, kini tinggal perjuangan membawa bahan-bahan itu ke sekolah. Setelah sampai di sekolah dan kelompokku berkumpul semua, kami mengemas rumput-rumput itu agar dapat berdiri di atas gabus. Kemudian kami berganti pakaian agar kami dapat berlatih satu kali lagi. Namun waktu tidak mengijinkannya. Akhirnya kami hanya berangan-angan dan berlatih sendiri-sendiri.
Saat tiba giliran drama kelompokku aku merasa senang karena ada beberapa temanku yang membantu menaburkan rerumputan dan daun-daun kering. Drama berlangsung tidak lama, namun cukup memuaskan hasilnya karena drama berlangsung lancer tanpa ada kata-kata yang terlupa. Kami merasa senang berhasil menyelesaikan drama tersebut walaupun kami tidak mengetahui hasil penilaian guru.
Segala sesuatu yang dilakukan akan terasa indah apabila kita membaginya dengan orang lain. Masalah yang berat bisa menjadi ringan bila kita berbagi dengan orang lain. Oleh karena itu, berbagilah kesenangan dan kesedihan kalian agar hidup lebih bermakna dan indah.

1 komentar:

  1. i'll remember it

    its so funny

    forever friends right?

    don't forget me...

    i'll miss U

    cao...

    BalasHapus